SMP Maria Immaculata Marsudirini menyelenggarakan kegiatan retret bagi para siswa di Rumah Retret St. Fransiskus Muntilan. Kegiatan yang mengusung semangat pembaruan diri ini dilaksanakan dalam dua gelombang, yaitu gelombang pertama pada 29 September – 1 Oktober 2026 dan gelombang kedua pada 1 – 3 Oktober 2026.
Retret ini merupakan bagian dari program pengolahan rohani dan pembinaan karakter sekolah, dengan tujuan membantu para siswa mengenali diri, menemukan arah hidup, serta membangun komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seluruh rangkaian kegiatan didampingi oleh para fasilitator dari Yayasan Marsudirini bersama wali kelas, guru BK, dan guru agama.
Kegiatan retret diawali dengan penyampaian tata tertib dan ibadat pembuka, sebagai tanda dimulainya perjalanan rohani para siswa. Selama tiga hari di setiap gelombang, para peserta diajak menyelami berbagai materi yang menyentuh inti kehidupan, mulai dari Aku dan Cita-Citaku, Keinginanku vs Kehendak Tuhan, Ibadat Alam, Pergulatan Diri, hingga Aku Mau Berubah atau Jalan Pertobatan.
Perjalanan ini semakin mendalam melalui Drama Pertobatan, Malam Pertobatan, dan perenungan atas Buah-Buah Pertobatan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan materi Kesetiaan dan Siap Berjalan serta Menjadi Berkat, yang mengajak para siswa untuk melangkah dengan setia dan membawa dampak positif bagi sesama.
Antusiasme dan Ketulusan Para Siswa
Secara keseluruhan, para siswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik dan penuh antusiasme. Meskipun demikian, terdapat beberapa siswa yang masih memerlukan pengingatan berulang agar dapat mengikuti kegiatan dengan tertib dan fokus. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pendamping, yang dengan sepenuh hati terus berusaha membimbing dan mendampingi setiap peserta.
Salah satu momen yang paling membanggakan adalah penampilan Drama Pertobatan oleh para siswa. Dalam waktu persiapan yang relatif singkat, mereka mampu menampilkan drama dengan luar biasa, penuh penghayatan, dan pesan yang menyentuh. Tidak hanya itu, pengakuan dosa yang mereka lakukan juga berlangsung dengan penuh kesungguhan hati, menunjukkan kesiapan mereka untuk bertobat dan berubah.
Suara Hati Para Pendamping
Sebagai guru yang mendampingi, kegiatan retret ini menyisakan dua rasa yang bercampur. Di satu sisi, ada kebahagiaan melihat para siswa mengikuti kegiatan dengan baik dan sungguh-sungguh. Di sisi lain, ada kesedihan ketika melihat beberapa anak yang masih cukup sulit untuk diajak bekerja sama. Namun, justru di sinilah para fasilitator dan pendamping belajar untuk semakin sabar, tekun, dan penuh kasih dalam mendampingi setiap pribadi.
Kegiatan retret ini diharapkan menjadi pengalaman berharga yang memberikan warna baru dalam hidup para siswa. Lebih dari itu, retret ini diharapkan menumbuhkan keberanian bagi mereka untuk melangkah maju, membangun hidup yang lebih baik, serta mempersiapkan masa depan dengan penuh harapan dan tanggung jawab.
Retret bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju pribadi yang lebih dewasa, setia, dan siap menjadi berkat bagi sesama.
Terima kasih kepada seluruh fasilitator, wali kelas, guru BK, rumah retret, dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan retret ini. Tuhan memberkati. (Rn)